Cari Blog Ini

Memuat...

Sabtu, 15 September 2012

PENGARUH BIAYA PRODUKSI TERHADAP PENDAPATAN PETANI KELAPA SAWIT



Bambang Hermanto, SP, MSi.[1]

Abstrak

Pengaruh Biaya Produksi Terhadap Pendapatan Petani Kelapa Sawit.Tujuan untuk mengetahui (a) Berapa besar pengaruh biaya produksi tenaga kerja, jumlah pupuk dan biaya panen terhadap pendapatan petani kelapa sawit (b) Berapa besar keuntungan petani kelapa sawit. Berdasarkan Pertimbangan populasi dalam penelitian digunakan metode tehnik acak sederhana  (Simple Random Sampling).
            Keuntungan yang diperoleh petani kelapa sawit adalah sebesar Rp. 36.749.616.00,- dengan tingkat rata-rata sebesar Rp.3.062.468.00,-. Pengaruh Biaya Produksi Terhadap Pendapatan Petani Kelapa Sawit  Desa Kota Tengah Kecamatan Dolok Masihul Kabupaten Serdang Bedagai Provinsi Sumatera Utara menyatakan bahwa, tenaga kerja, jumlah pupuk, dan biaya panen  berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani kelapa sawit  pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Pendahuluan
Latar Belakang

Pembangunan ekonomi jangka panjang tidak selalu harus diarahkan pada sektor industri, tetapi dapat diarahkan pada sektor lain, seperti sektor pertanian dan sektor jasa meliputi perdagangan, transportasi, komunikasi, perbankan dan lain-lain. Pembangunan jangka panjang secara terpadu akan mengembangkan sumber daya yang dapat diperbaharui melalui sektor pertanian, sektor agro industri, sektor perdagangan, dan sektor jasa pendukung dalam kerangka modal pembangunan insani (human capital) Indonesia yang seluas-luasnya. Indonesia merupakan industri kelapa sawit terbesar didunia setelah Malaysia. Indonesia bisa menjadi produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Perkebunan kelapa sawit pun bisa menghadirkan prestasi-prestasi yang membanggakan dan layak untuk ditiru, kesemuanya itu bergantung pada manajemen dan sistem pengelolaannya (Chandra, 2005).
Sumatera Utara merupakan salah satu pusat perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Perkebunan di Sumatera Utara telah dibuka sejak zaman penjajahan Belanda. Komoditi hasil perkebunan yang paling penting dari Sumatera Utara saat ini antara lain kelapa sawit, karet, kopi, kakao dan tembakau. Pusat penelitian kelapa sawit (PPKS) merupakan salah satu produsen bahan tanaman unggul kelapa sawit terkemuka (Anonimous, 2008).
            Dimasa krisis moneter, komoditi kelapa sawit perkebunan besar maupun kecil menjadi salah satu subsektor yang turut menyumbang pertumbuhan ekonomi nasional, baik sisi pendapatan maupun kontribusi pendapatan devisa dan sektor non migas melalui kegiatan ekspor. Devisa ekspor komoditi kelapa sawit umumnya berasal dari produk primer berupa crude palm oil (CPO), inti sawit dan bungkil sawit, sedangkan sisanya berasal dari produk hilir seperti bahan baku industri farmasi, palm, biodiesel dan sebagainya (Badan Pusat Statistik, 2007).
            Kondisi perkebunan Indonesia dianggap masih menduduki porsi yang paling baik dibandingkan tanaman lain. Sebut saja tanaman perkebunan yang berhasil digalakkan diataranya kelapa sawit, kopi, kakao yang menjadi komoditas non-migas andalan pemberi kontribusi devisa negara. Untuk kalancaran pengelolaannya, dibutuhkan tiga aspek agribisnis yang saling terkait satu sama lainnya, yakni aspek produksi, pemasaran, dan keuangan. Bila ketiga aspek tersebut ditangani dengan manajemen yang benar-benar tepat, bukan tidak mungkin hasil yang diperoleh bisa lebih dari sekedar mendapatkan keuntungan (Pahan, 2008).
Soekartawi, 1996. menyatakan bahwa pengembangan agribisnis kelapa sawit idealnya diarahkan pada agribisnis skala kecil sampai menengah dipedesaan dengan teknologi tepat guna. Pembangunan kawasan pedesaan yang diarahkan pada pengentasan kemiskinan akan dapat meningkatkan pasokan (supply) komoditi dan produk pertanian, selain meningkatkan pendapatan dan daya beli  masyarakat, strategi ini akan efektif untuk membangun pasar dalam negeri yang berdaya beli tinggi bagi produk manufaktur dan jasa, bahkan mengantisipasi regionalisasi ekonomi sehingga daya saing nasional akan lebih meningkat melalui peningkatan kesejahteraan  masyarakat pedesaan.  
            Hingga saat ini Indonesia lebih banyak mengekpsor CPO (90 persen) ekspor minyak sawit Indonesia berbentuk CPO, 10 persen sisanya berupa produk turunan, karena pasar dunia lebih banyak meminta CPO dibandingkan pada produksi turunannya, hal ini menyebabkan CPO yang diproses menjadi kebutuhan non-makanan baru sekitar 15 persen. Indonesia memiliki 62 industri hilir CPO dengan kapasitas terpasang sebesar 21 juta ton pertahun, tetapi tingkat utilitasnya baru 25 persen. Kondisi ini semakin dikhawatirkan dengan adanya kebijakan tarip pajak ekspor (PE) produk turunan yang sama dengan crude palm oil (CPO) (Menteri Perdagangan, 2007).
            Sunarko, 2009. juga menyatakan bahwa tanaman kelapa sawit merupakan tanaman penghasil minyak nabati yang paling efisien diantara beberapa tanaman sumber minyak nabati yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi  lainnya, seperti kedelai, zaitun, kelapa, bunga matahari. Kelapa sawit dapat menghasilkan minyak paling banyak dengan rendemen mencapai 20 persen, kelapa sawit dapat menghasilkan minyak sebanyak 6-8 ton perhektar. Sementara itu, tanaman sumber minyak nabati yang lainnya hanya menghasilkan kurang dari 2,5 ton perhektar, berada jauh di bawah kelapa sawit, sehingga prospek untuk memenuhi kebutuhan pasar kelapa sawit lebih menjanjikan.
            Pengelolaan perkebunan kelapa sawit baik itu yang dikelola oleh perusahaan negara, swasta ataupun rakyat tentu tidak terlepas dari masalah biaya produksi, yaitu biaya yang digunakan selama pengusahaan tanaman. Tinggi rendahnya biaya produksi yang dikeluarkan tergantung pada sistem manajemennya yaitu mengefisiensikan segala biaya-biaya produksi yang dikeluarkan. Rendahnya biaya produksi adalah salah satu dari satu indikator terciptanya efisiensi dalam pengelolaan tanaman kelapa sawit. Hal ini disebabkan biaya produksi adalah salah satu alternatif yang dapat dipilih sebagai faktor yang dapat ditekan sehingga tidak terlalu banyak mengeluarkan biaya produksi. Upaya untuk menciptakan dan meningkatkan pendapatan  petani dapat pula dilakukan dengan menekan biaya produksi menjadi seminimal mungkin (Pardamean, 2008).
Hernanto, 1991, menyatakan, bahwa biaya yang dikeluarkan oleh seorang petani dalam proses produksi serta membawanya menjadi produk disebut biaya produksi. Di dalam jangka pendek, satu kali produksi kita dapat membedakan biaya tetap dan biaya berubah (variabel), termasuk didalamnya barang yang dibeli dan jasa yang dibayar didalam maupun di luar usaha tani. Tetapi dalam jangka pendek ceriteranya menjadi lain, semuanya akan merupakan biaya berubah karena semua faktor yang digunakan menjadi variabel.
            Untuk mencapai tingkat efisiensi biaya yang optimal, diperlukan skala ekonomi untuk luasan perkebunan kelapa sawit yang akan dikelola. Dalam tingkat skala usaha yang optimal tersebut, seluruh komponen biaya tetap (fixed cost) akan berfungsi secara maksimal sehingga harga pokok persatuan produk akan menjadi lebih kompetitif. Biaya diatas adalah biaya-biaya pokok  yang dikeluarkan untuk sistem pegelolaan tanaman kelapa sawit yang sudah menghasilkan sehingga dapat dimanfaatkan petani untuk meningkatkan pendapatannya. Pengelolaan yang baik akan berdampak pada produktivitas tanaman dalam memberikan hasil produksi yang optimal bagi petani kelapa sawit  sehingga mampu memberikan keuntungan secara signifikan (Lembaga Pertanian Perkebunan, 2000).
Dalam mekanisme input-proses-output, mutu bahan baku sangat menentukan produk yang dihasilkan. Biaya-biaya yang dikeluarkan dalam memproduksi kelapa sawit mencakup :
a.       Biaya pemeliharaan tanaman seperti: pemberantasan gulma, pemupukan, pemberantasan hama dan penyakit, tunas pokok (pruning), konsolidasi, pemeliharaan terasan dan tapak kuda, pemeliharaan prasarana.
b.      Biaya panen atau biaya yang dikeluarkan untuk melancarkan segala aktivitas untuk mengeluarkan produksi (TBS) atau hasil panen dari lapangan (areal) ke agen pengepul atau kepabrik seperti biaya tenaga kerja panen, biaya pengadaan alat kerja dan biaya angkutan (Antoni, 1995).   
Untuk mencapai sasaran produksi tersebut langkah-langkah yang ditempuh oleh petani kelapa sawit Desa Kota Tengah Kecamatan Dolok Masihul Kabupaten Serdang Bedagai adalah pemanfaatan sumberdaya manusia dan lahan yang didukung oleh sarana produksi (saprodi) dan penerapan paket teknologi unggulan dilapangan. Disamping itu upaya peningkatan produksi kelapa sawit harus dikaitkan dengan peningkatan pendapatan petani melalui peningkatan kwalitas sumberdaya manusia dan pendekatan agribisnis yang berorientasi pada pasar dan keuntungan.
Besarnya biaya dan rendahnya produktivitas maka untuk mendorong kelangsungan usaha dengan tingkat efisiensi yang jelas. Tenaga kerja merupakan faktor penting dalam usaha tani, khususnya tenaga kerja keluarga beserta anggota keluarganya. Jika masih dapat dikerjakan oleh tenaga kerja keluarga sendiri maka tidak perlu mengupah tenaga kerja luar, sehingga tingkat efisiensi biaya yang dikeluarkan mampu memberikan pendapatan yang sangat signifikan bagi keluarga petani  ( Suratiyah, 2008).
Rachman, dkk, 2002. juga menyatakan distribusi pupuk untuk usahatani tanaman perkebunan rakyat masih dimonopoli oleh pemerintah dengan harga subsidi dan non subsidi., sehingga ini berdampak pada alokasi penyaluran pupuk. Kecenderungan pupuk bersubsidi mengalir pada usaha tani tanaman perkebunan masih ada, tetapi kenyataannya  dilapangan yang masih dirasakan petani, kelangkaan pupuk masih juga di jumpai, sehingga dengan menggunakan pupuk nonsubsidi akan berdampak dengan tingginya harga pupuk yang tidak sesuai dengan biaya yang dikeluarkan dengan penerimaan yang diperoleh petani kelapa sawit.
Pekerjaan potong buah (panen) merupakan pekerjaan utama diperkebunan kelapa sawit karena langsung menjadi sumber pemasukan uang bagi petani kelapa sawit. Mengutip hasil/potong buah, transport dan pengolahan merupakan satu rangkaian mata rantai tertutup yang harus dilaksanakan secara terpadu karena kepentingan yang saling mempengaruhi biaya produksi yang dikeluarkan dengan pendapatan petani yang akan diterima (Bangun, 2005).
Oleh karena itu dari keterangan latar belakang diatas penulis akan meneliti  beberapa variabel tertentu yang diduga berpengaruh nyata dalam meningkatkan produksi kelapa sawit perkebunan rakyat dengan judul “Pengaruh Biaya Produksi Terhadap Pendapatan Petani kelapa sawit” dengan studi kasus di Desa Kota Tengah Kecamatan Dolok Masihul Kabupaten Serdang Bedagai.     

Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
1.      Untuk mengetahui besarnya pengaruh biaya produksi (tenaga kerja, jumlah pupuk, biaya panen) terhadap pendapatan petani kelapa sawit.
2.      Untuk mengetahui  besarnya keuntungan petani kelapa sawit.
Tinjauan Pustaka

Tanaman Kelapa Sawit dan Anggaran Biaya
Pertumbuhan dan produksi kelapa sawit dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor dari luar maupun dari tanaman itu sendiri. Faktor itu sendiri pada dasarnya dapat dibedakan menjadi faktor lingkungan, genetis, dan faktor tehnis-agronomis. Dalam menunjang pertumbuhan dan proses produksi kelapa sawit, faktor tersebut saling terkait dan mempengaruhi satu sama lain dalam hal peningkatan produksi yang dihasilkan. Pengusahaan perkebunan kelapa sawit mulai dari persiapan lahan, penyediaan sarana dan prasarana, pemeliharaan, hingga pemasaran membutuhkan biaya yang cukup agar dapat berjalan dengan baik. (Fauzi, dkk, 2005).
Pahan, I, 2008.menyatakan bahwa biaya produksi merupakan bagian dari pada anggaran  produksi yang penting yang dikeluarkan untuk biaya operasional dan dibutuhkan selama usaha itu masih berlangsung. Lancar atau tidaknya suatu usaha bergantung kepada biaya yang dikeluarkan, biaya produksi sebagai penunjang segala aktivitas yang ada karena menyangkut dengan produktivitas tanaman dan keuntungan bagi petani. selain itu biaya yang diusahakan juga harus diperhitungkan, karena biaya yang dikeluarkan juga akan mempengaruhi pendapatan yang akan diterima dalam menjalankan suatu usaha
Produksi merupakan hasil dari aktivitas kerja di bidang pemeliharaan tanaman. Baik buruknya pemeliharaan tanaman akan tercermin dari tingkat produksi yang dihasilkan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan anggaran produksi antara lain tahun tanam (menyangkut umur dan komposisi tanaman), luas areal yang dipanen, jumlah pokok dalam satu hektare (populasi pokok), jenis tanah, pemupukan, pemeliharaan tanaman, pencapaian produksi tahun-tahun sebelumnya dan pola panen secara umum produksi kelapa sawit mempunyai tiga pola panen yaitu panen rendah, panen sedang dan panen puncak (Anonimous, 2007).
            Petani pemilik tanah akan sangat  tertarik tentang keuntungan tunai. Demikian juga petani yang akan mendapatkan porsi kecil dari hasil usahanya, tentunya mengharapkan pendapatan yang lumayan. Secara umum petani mengharapkan keuntungan atau penerimaannya akan selalu lebih besar dari biaya tunai yang mereka keluarkan. Di pihak lain pemerintah akan lebih tertarik terhadap total biaya termasuk pengeluaran tenaga kerja keluarga, sekaligus menghitung investasi nasional yang telah dicurahkan untuk kemajuan usaha produksi (Hernanto, 1991).

Produktivitas Petani Kelapa Sawit
            Produktivitas petani kelapa sawit merupakan kemampuan petani dalam memanfaatkan atau mengefisiensikankan sumberdaya yang ada (SDM dan SDA) untuk dikelola sehingga mampu memberikan kontribusinya yaitu hasil produksi tandan buah segar (TBS) yang optimal. Upaya penghematan biaya produksi dengan terus memantau harga tandan buah segar (TBS) ketingkat yang lebih wajar demi kelangsungan usaha misalkan harga yang rendah dan biaya produksi yang terus meningkat bisa berdampak menyebabkan kerugian bagi petani kelapa sawit. Salah satu kemampuan petani dalam mengefisiensikan sumberdaya yang ada yaitu dengan memanfaatkan tenaga kerja keluarga. Kemampuan pemanen untuk melakukan panen dipengaruhi kondisi fisik pemanen. Agar mencapai target, pemanen sering dibantu oleh tenaga kerja keluarga yaitu istri dan anak.  Berdasarkan keterangan diatas biaya panen akan menjadi lebih rendah apabila petani mampu meminimalkan setiap pengeluaran yang ada, contoh memaksimalkan tenaga kerja keluarga, sehingga pengefisiensi tenaga kerja keluarga sangat berdampak terhadap pendapatan petani kelapa sawit (Antoni, 1995).
Dengan mengalokasikan anggaran biaya produksi dalam manajemen budaya adalah memperbaiki lingkungan, pengelolaan air, dan kesuburan tanah. Selain itu, pemuliaan tanaman juga dilakukan untuk mendapatkan hasil panen yang baik. Untuk lingkungan yang cocok (favorable condition), potensi produksi tanaman kelapa sawit akan baik. Upaya yang dilakukan oleh manajemen meliputi manajemen persiapan lahan, pembibitan, penanaman, dan pemeliharan tanaman. Dengan manajemen tanaman, seluruh aktivitas biologis kelapa sawit diharapkan berlangsung dengan maksimal (Sunarko, 2009).

Biaya Produksi.
Biaya produksi yang dikeluarkan untuk tanaman menghasilkan (TM) dimasukkan kedalam biaya eksploitasi tanaman. Pada prinsipnya, pekerjaan didalamnya hampir sama dengan tanaman belum menghasilkan (TBM) yang membedakan adalah pekerjaan panen, contoh dari pekerjaan tersebut adalah pemeliharan gawangan, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit. Pemeliharaan tanaman menghasilkan (TM) harus dilakukan secara intensip, termasuk pengawasan secara terus-menerus untuk mengantisipasi adanya serangan hama dan penyakit. Biaya pemeliharaan tanaman menghasilkan dinyatakan dalam Rp/ton, karena merupakan biaya eksploitasi yaitu pengeluaran untuk memperoleh pendapatan dari hasil produksi. Biaya pemeliharaan tanaman menghasilkan (TM) dan biaya panen merupakan komponen biaya produksi dan dicatat pada perkiraan rugi laba. Agar mendapatkan produksi yang baik dengan rendemen yang tinggi, pemanen kelapa sawit harus dilakukan dengan memperhatikan beberapa hal seperti kematangan TBS, cara dan alat panen, serta rotasi panen (Pardamean, 2008)
Biaya produksi sangat berfungsi dalam mengkoordinir segala kegiatan yang mencakup sistem kerja untuk meraih apa yang diinginkan sehingga berdampak pada tingkat produktivitas tanaman untuk memberikan hasil tandan buah segar (TBS) sehingga mampu memberikan pendapatan bagi petani kelapa sawit. Anggaran di perusahaan perkebunan kelapa sawit sesuai dengan kegiatan yang ada adalah anggaran produksi (TBS). Anggaran biaya ini didukung oleh anggaran bahan seperti anggaran pemupukan, anggaran  tenaga kerja, anggaran biaya panen dan anggaran transportasi (Suratiyah, 2008).
Biaya produksi merupakan bagian dari pada anggaran  produksi yang penting yang dikeluarkan untuk biaya operasional dan dibutuhkan selama usaha itu masih berlangsung. Lancar atau tidaknya suatu usaha bergantung kepada biaya yang dikeluarkan, biaya produksi sebagai penunjang segala aktivitas yang ada karena menyangkut dengan produktivitas tanaman dan keuntungan bagi petani. selain itu biaya yang diusahakan juga harus diperhitungkan, karena biaya yang dikeluarkan juga akan mempengaruhi pendapatan yang akan diterima dalam menjalankan suatu usaha (Hernanto, 1991).
Tenaga kerja merupakan faktor produksi yang penting dan perlu diperhitungkan dalam proses produksi dalam jumlah cukup bukan saja terlihat dari tersedianya tenaga kerja tetapi juga kualitas dan macam tenaga kerja perlu juga diperhatikan. Besar-kecilnya upah tenaga kerja ditentukan oleh mekanisme pasar, jenis kelamin (HKSP dan HKSW), kualitas tenaga kerja dan umur tenaga kerja. Oleh karena itu, penilaian terhadap upah perlu di standarisasi menjadi hari kerja orang (HKO) (Soekartawi, 1993).
Salah satu tindakan perawatan tanaman yang berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman adalah pemupukan. Pemupukan bertujuan untuk menambah ketersediaan unsur hara didalam tanah. Dengan pemupukan dapat meningkatkan produktivitas tanaman. Semua petani kelapa sawit sangat membutuhkan pupuk untuk diberikan sabagai ransum pada tanaman sehingga tanaman tersebut mampu mamberikan kontribusinya yaitu hasil tandan buah segar (TBS) yang sesuai yang diharapkan. Mulai dari dosis pupuk perpokok, cara perlakuan penaburan sesuai kriteria yang berlaku, penggunaan tenaga kerja harus dimanfaatan seefisien mungkin (Chandra, 2005).
Biaya panen yang dikeluarkan adalah seluruh biaya produksi akhir yang gunanya untuk mengeluarkan produksi TBS, dan biaya tersebut adalah biaya-biaya tenaga kerja potong buah segar (TBS), biaya alat kerja dan biaya transport kepabrik. Penyusunan anggaran upah dimulai dari menyusun kebutuhan tenaga kerja dan faktor-faktor pendukung yang dapat meningkatkan kualitas dan hasil panen yang dimulai dari lapangan sampai kepabrik sesuai dengan standar yang disesuaikan dengan kondisi setempat (lembaga Pertanian Perkebunan, 2000).
Pada saat ini, kualitas bukan hanya dimaksudkan pada produk akhir saja, tetapi meliputi semua aspek teknis dan manajemen, sejak awal produk diproses hingga barang tersebut habis dan tidak terpakai lagi oleh konsumen. Dalam mekanisme input-proses-output, mutu bahan baku sangat menentukan produk yang dihasilkan. Secara umum, dapat disimpulkan bahwa untuk peningkatan kualitas produk mengacu pada harga yang wajar. Harga yang wajar berarti mempertahankan harga pokok dengan peningkatan efisiensi dan produktivitas petani untuk lebih efektip dalam pengusahaan tanaman kelapa sawit (Bangun, 2005).
Klasifikasi biaya penting dalam membandingkan pendapatan untuk mengetahui kebenaran jumlah biaya antara lain :
1.      Biaya tetap (fixed cost) yaitu biaya yang penggunaannya tidak habis dalam satu masa produksi contohnya pajak tanah, pajak air, penyusutan alat dan bangunan pertanian, alat berat (traktor) dan lain sebagainya.
2.      Biaya variabel (variabel cost) yaitu biaya yang dikeluarkan selama proses prduksi berlangsung contohnya biaya pupuk, bibit, pestisida, buruh atau tenaga kerja upahan, biaya panen (pengadaan alat kerja dan tenaga kerja yang berpengalaman) dan sewa lahan (Soekartawi, 1990).
Panen
Tujuan dari penanaman kelapa sawit yaitu untuk menghasilkan produksi yang optimal sehingga mampu memberikan hasil yang optimal bagi petani kelapa sawit. Untuk mendapatkan produk yang optimal, karakteristik dan faktor yang mempengaruhi produksi harus dipahami dan diusahakan pada level yang optimal. Bagian faktor utama dalam peningkatan produksi adalah dengan mengalokasikan biaya produksi sehingga dapat meningkatkan produktivitas tanaman dan dapat memberikan pendapatan yang optimal bagi petani kelapa sawit. Panen dan produksi merupakan hasil dari aktivitas kerja dibidang pemeliharaan tanaman (Sunarko, 2009).
Panen dan produksi merupakan hasil dari aktivitas kerja di bidang pemeliharaan tanaman. Baik dan buruknya pemeliharaan tanaman tercermin dari panen dan produksi yaitu tandan buah segar (TBS). Pekerjaan panen meliputi pemotongan tandan buah segar (TBS) yang masak secara alami, pengumpulan brondolan, serta pengangkutan tandan buah segar (TBS) ketempat pemungutan hasil (TPH), untuk kemudian dibawa kepabrik pengolahan. Biaya panen yang ekonomis merupakan salah satu komponen biaya produksi antara lain, umur tanaman, topografi areal, kematangan panen dan kemampuan panen (Pardamean, 2008).
Tanaman kelapa sawit mulai berbunga dan membentuk buah setelah umur 2-3 tahun. Buah akan menjadi masak sekitar 5-6 bulan setelah penyerbukan. Proses pemasakan buah kelapa sawit dapat dilihat dari perubahan warna kulit buahnya. Pada saat buah masak, kandungan minyak pada buah akan maksimal. Jika terlalu matang, buah kelapa sawit akan lepas dan jatuh dari tangkai tandannya, buah jatuh tersebut disebut istilah memberondol (Fauzi, dkk, 2008).
            Pemotongan dan pengutipan TBS pada tingkat kematangan yang sesuai sehingga mendapatkan kandungan minyak yang diharapkan tanpa membuat kerusakan pada tanaman, dan langkah-langkah tersebut harus mengacu pada cara dan kriteria panen yang berlaku. Untuk standar kriteria matang panen diperkirakan dalam satu kilogram TBS terdapat 1 brondolan yang lepas dari tandan secara alami, dan untuk menghindarkan kerugian, semua buah yang matang diwajibkan dipanen. Disamping itu untuk penggunaan alat kerja seperti dodos, egrek, kapak, angkong gancu harus benar-benar diperhatikan karena menyangkut dengan efisiensi kinerja hasil yang dicapai (Pahan, 2008).

Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kerangka pemikiran dan permasalahan diatas, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut :
1.      Biaya tenaga kerja, jumlah pupuk dan biaya panen berpengaruh nyata terhadap pendapatan petani kelapa sawit.
2.      Biaya produksi berpengaruh nyata terhadap keuntungan petani kelapa sawit.

Metode Analisis Data
Yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah petani kelapa sawit yang ada di Desa Kota Tengah Kecamatan Dolok Masihul Kabupaten Serdang Bedagai. pengambilan penelitian ini dipilih secara purposive (berdasarkan kebutuhan dan keinginan). Adapun jumlah sampel petani kelapa sawit sebanyak 30 KK dari jumlah populasi sebanyak 70 KK yaitu 43 persen dari jumlah populasi.
Yang  digunakan dalam perumusan masalah  adalah Regresi Linier Berganda dimana :
Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + e
Dimana :    Y            =    Pendapatan
                  a             =    Intercep       
                  X1           =    Tenaga Kerja
                  X2           =    Jumlah Pupuk
                  X3           =    Biaya Panen
                  b2 – b3     =    Konstanta
                  e             =    error term       (Usman, H, 2006).

Untuk pengujian hipotesis secara simultan digunakan uji t, dengan kriteria :
t hitung  > t tabel Ho ditolak H1 diterima, maka ada pengaruh nyata terhadap pendapatan (α = 0.05).
t hitung <  t tabel Ho diterima H1 ditolak, maka tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan (α = 0.05)  (Sarwono, 2007).
            Untuk perumusan masalah yang kedua menggunakan analisis keuntungan yaitu :
 p = TR – TC
Dimana :       p          =    keuntungan
                     TR       =    total revenue (penerimaan)
                     TC       =    total cost (biaya tenaga kerja, biaya pupuk, biaya panen).
Hasil Dan Pembahasan Penelitian
Hasil analisis dan perhitungan hipotesis dari, tenaga kerja, biaya pupuk dan biaya panen terhadap pendapatan petani kelapa sawit  di Desa Kota Tengah Kecamatan Dolok Masihul Kabupaten Serdang Bedagai
       Tabel. Rata – Rata Tenaga Kerja, Pupuk, dan Panen Terhadap Pendapatan Petani  Kelapa Sawit Pertahun
No
Variabel
Koefisien
t - hitung
t – tabel
1
Konstanta
630169.9
0.224



2.05
2
Tenaga Kerja (log X1)
31.602
2.163
3
Pupuk (log X2)
1.879
2.106
4
Panen (Log X33)
1.871
2.077
5
R. Square
0.890
6
Adjusted R. Square
0.877
7
Standart Error
4869592.83
Sumber : Data Primer diolah, 2009

            Dari tabel diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa koefisien regresi :
Y = 630169.9 + 31.602 X1 + 1.879 X2 + 1.871 X3 + e

            Berdasarkan persamaan hasil regresi diatas dapat diketahui bahwa variabel biaya tenaga kerja, jumlah pupuk dan biaya panen mempunyai pengaruh yang sangat positif terhadap peningkatan pendapatan petani kelapa sawit dimana koefisien regresi untuk variabel tenaga kerja (X1) adalah sebesar 31.602; (X2) adalah jumlah pupuk sebesar 1.879; dan (X3) adalah biaya panen sebesar 1.871.
Nilai koefisien regresi variabel – variabel bebas memberikan arti sebagai berikut :
1.      Konstanta sebesar 630169.9 menyatakan bahwa jika terdapat tenaga kerja (X1),   biaya pupuk (X2) dan biaya panen (X3) maka pendapatan yang diperoleh petani kelapa sawit sebesar minimal Rp 630.169,-
2.      Koefisien regresi X1 sebesar 31.602 menyatakan bahwa penambahan biaya tenaga kerja sebanyak Rp 1000, maka pendapatan petani kelapa sawit meningkat sebesar Rp 31.602,-.
3.       Koefisien regresi X2 sebesar 1.879 menyatakan bahwa setiap kenaikan biaya pupuk sebesar Rp 1000,- maka pendapatan petani kelapa sawit akan naik sebesar Rp 1.879,-.
4.       Koefisien regresi X3 sebesar 1.871 menyatakan bahwa setiap kenaikan biaya panen Rp 1000,- maka pendapatan petani kelapa sawit akan bertambah sebesar Rp 1.871,-.
5.      R. Square (R²) sebesar 0.890 menyatakan bahwa nilai dari tingkat pengaruh biaya produksi terhadap pendapatan tertinggi 89 persen.
            Untuk lebih mengetahui pengaruh nyata variabel (X1), tenaga kerja (X2), jumlah pupuk dan (X3), biaya panen dapat dilihat pada interpretasi atau uraian dengan menggunakan uji t hitung dan t tabel sebagai berikut:

Pengaruh Biaya Tenaga Kerja (X1) Terhadap Pendapatan Petani Kelapa sawit
            Berdasarkan hasil regresi linier berganda dapat ditentukan bahwa variabel  (X2) mempunyai pengaruh yang positif terhadap pendapatan petani kelapa sawit (Y1), dimana koefisiennya menunjukkan sebesar 31,602, artinya apabila biaya tenaga kerja bertambah Rp 1000, maka pendapatan petani kelapa sawit akan bertambah sebesar Rp 31,602,-.
            Dengan menggunakan uji statistik t hitung > t tabel (2,163 > 2.05) Maka Ho ditolak H1 diterima, artinya bahwa variabel tenaga kerja (X1) berpengaruh nyata  terhadap pendapatan petani kelapa sawit pada tingkat kepercayaan 95 %. Demikian hipotesis diterima, hal ini terjadi karena pendapatan petani kelapa sawit  dipengaruhi oleh faktor tenaga kerja.
            Dari hasil diatas menunjukkan bahwa penggunaan tenaga kerja didaerah penelitian memberikan pengaruh yang nyata terhadap pendapatan petani, disebabkan karena masih seimbangnya harga jual tandan buah segar (TBS) kelapa sawit terhadap biaya produksi. Walaupun demikian dampak dari pada krisis global pada tahun 2008 belum mempengaruhi pendapatan petani karena harga jual tandan buah segar (TBS) kelapa sawit secara keseluruhan pada tahun itu masih menguat dan diperkirakan terjadi mulai pada bulan September – Desember 2008 harga jual kelapa sawit berangsur – angsur turun tetapi masih dalam tahap yang wajar.

Pengaruh Biaya Pupuk (X2) Terhadap Pendapatan Petani Kelapa sawit
            Berdasarkan hasil regresi linier berganda dapat ditentukan bahwa variabel  (X2) mempunyai pengaruh yang positif terhadap produksi petani kelapa sawit (Y1), dimana koefisiennya menunjukkan sebesar 1,879 artinya apabila biaya pupuk bertambah Rp 1000, maka pendapatan petani kelapa sawit akan bertambah sebesar Rp 1,879.
            Dengan menggunakan uji statistik t hitung > t tabel (2,106 > 2.05) Maka Ho ditolak H1 diterima, artinya bahwa variabel pupuk (X2) berpengaruh nyata secara signifikan terhadap pendapatan petani kelapa sawit pada tingkat kepercayaan 95 persen. Demikian hipotesis diterima, hal ini terjadi karena tingkat produksi dipengaruhi oleh faktor jumlah pupuk yang diberikan.
            Dari hasil di atas menunjukkan bahwa penggunaan pupuk didaerah penelitian memberikan pengaruh yang nyata terhadap pendapatan petani, ini disebabkan karena  harga jual kelapa sawit masih mampu memberikan andil yang cukup besar terhadap produksi yang diterima petani responden, walaupun biaya pupuk (X2) yang dikeluarkan cukup besar tetapi masih bisa ditutupi oleh penerimaan petani sampel, sehingga petani sampel masih mampu membeli pupuk, dan mengalokasikannya kepada tanaman yang dikelola, dampaknya tanaman mampu memberikan produktivitas hasil yang cukup signifikan terhadap hasil produksi tandan buah segar (TBS) terhadap petani kelapa sawit.

Pengaruh Biaya Panen (X3) Terhadap Pendapatan Petani Kelapa sawit
            Berdasarkan hasil regresi linier berganda dapat ditentukan bahwa variabel  (X3) mempunyai pengaruh yang positif terhadap pendapatan petani kelapa sawit (Y1), dimana koefisiennya menunjukkan sebesar 1,871 artinya apabila biaya panen bertambah sebesar Rp 1000, maka pendapatan petani  kelapa sawit akan bertambah sebesar Rp 1,879,-.
            Dengan menggunakan uji statistik t hitung > t tabel (2,077 > 2.05) Maka Ho ditolak H1 diterima, artinya bahwa variabel biaya panen (X3) berpengaruh nyata secara signifikan terhadap produksi kelapa sawit pada tingkat kepercayaan 95 persen. Demikian hipotesis diterima, hal ini terjadi karena tingkat produksi dipengaruhi oleh faktor panen.
            Dari hasil penelitian diatas menunjukkan bahwa biaya panen yang dikeluarkan didaerah penelitian memberikan pengaruh yang nyata terhadap pendapatan petani kelapa sawit. Disebabkan karena tingkat kesadaran petani (kepedulian) masih tinggi melaksanakan kriteria panen diantara dengan menekan losses (biaya yang terbuang dengan sia sia), contohnya brondolan dikutip bersih diareal dan ditempat pemungutan hasil (TPH), tidak adanya buah tinggal yang masak dipokok (tidak dipanen), TBS cepat dingkut kepabrik (tidak restan). Kemudian dari hasil penelitian terhadap petani responden bahwa banyakya keberadaan agen pengepul sebagai penjembatani antara hasil panen tandan buah segar (TBS) yang dihasilkan petani kepabrik tentu sangat memudahkan petani untuk menjual hasil produksinya langsung dari lapangan kepabrik pengolahan. Disamping itu pula bahwa pekerjaan panen merupakan bagian dari pada puncak dari segala usaha pengelolaan tanaman kelapa sawit karena panen  secara nyata langsung berhubungan dengan produksi yang dihasilkan oleh petani untuk mendapatkan keuntungan (p).
            Untuk mengetahui hipotesis yang kedua yang dinyatakan dalam kalimat dan dimasukkan kedalam rumus yang telah dibuat pada bab tiga bahwa keuntungan (p) didapat setelah mengetahui total penerimaan (TR) dikurangi dengan total biaya produksi (TC). Untuk lebih jelasnya keuntungan rata – rata pendapatan petani kelapa sawit dengan luas areal rata – rata seluas 1.43 ha adalah sebagai berikut:
         p       =    TR – TC
Dimana,     =    Rp. 96,460,968 – Rp.13,088,550.67
           p    =    Rp. 36,749,616.00,-
Dari rumus diatas diterangkan bahwa dengan luas areal rata – rata 1.43 ha total penerimaan petani dalam satu tahun  Rp. 96,460,968, dikurangi total biaya produksi dalam satu tahun Rp.13,088,550.67, sehingga keuntungan petani kelapa sawit yang didapat dalam satu tahun sebesar Rp. 36,749,616.00, jadi dapat disimpulkan untuk pendapatan petani kelapa sawit rata – rata setiap bulannya sebesar Rp. 3,062,468.00,-

Kesimpulan
            Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
Pengaruh tenaga kerja, pupuk dan panen terhadap pendapatan petani kelapa sawit berdasarkan analisis Regresi Linier Berganda adalah:
1.      Tenaga kerja, biaya pupuk dan biaya panen berpengaruh nyata terhadap pendapatan petani dan ini dapat dibuktikan dengan menggunakan uji statistik t berpengaruh signifikan terhadap produksi kelapa sawit pada tingkat kepercayaan 95 persen.
2.      Dari hasil keuntungan yang diperoleh petani kelapa sawit didaerah penelitian layak untuk diusahakan karena .

Daftar Pustaka


Anonimous, 2007. Sumatera Utara Dalam Angka tahun 2001-2006. Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Provinsi Sumatera Utara, Medan.

Anonimus, 2008. Agribisnis Tanaman Perkebunan. Cetakan keempat. Penerbit PT. Penebar Swadaya. Jakarta.

Anonimous, 2007. Sawit Butuh Kebijakan Konkrit. Kompas. Jakarta.

Antoni, R, 1995. Pengendalian Gulma, Pemupukan, Pengelolaan Tajuk dan Manajemen Pemungutan Hasil Kelapa Sawit (Elais guinesis) di Kayangan Estate, PT. Salim Indoplantation. Riau. Laporan Keterampilan Propesi Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Bogor.(tidak dipublikasikan)

Badan Pusat Statistik, 1999. Statistik Kelapa Sawit 1998 – 2000 Direktorat Jenderal      Perkebunan Departemen Kehutanan dan Perkebunan, Jakarta.

Bangun, Deron, 2005. Peta Terkini Perkebunan dan Industri Kelapa sawit. Penerbit PT. ISMaC Indonesia. Jakarta.

Chandra, A, V, Widyani. Prediksi dan Rekomendasi, Revitalisasi Industri Kelapa Sawit Indonesia Sebagai Andalan Pertumbuhan Ekonomi Nasional 2010-2020. Penerbit PT. ISMaC Indonesia. Jakarta. 

Fauzi, Yan, Widyastuti, Erna, Yustisia, Styawibawa, Iman, Hartono, Rudi, 2005. Kelapa sawit, Edisi Revisi Budi Daya Pemanfaaatan Hasil dan Limbah Analisis Usaha dan Pemasaran. Cetakan kedelapan Belas. Penerbit Penebar Swadaya. Jakarta.

Hernanto, Fadholi, 1991. Ilmu Usaha Tani. Cetakan pertama. Penerbit PT. Penebar Swadaya. Jakarta.  

Lembaga Pertanian Perkebunan, 2000. Seri Budidaya Tanaman Kelapa Sawit. Edisi Pertama. Penerbit LPP Press. Yogyakarta. 
Menteri Perdagangan, 2007. Ekspor CPO masih baik. Analisa. Hal 13. Medan.

Pahan, Iyung, 2008. Panduan Tehnis Budidaya Kelapa Sawit. Cetakan kedua. Penerbit PT. Indopalma Wahana Hutama, Jakarta.

Pahan, Iyung, 2008. Panduan Lengkap Budidaya Kelapa Sawit. Cetakan kedua. Penerbit PT. Indopalma Wahana Hutama. Jakarta.

Pardamean, Maruli, 2008. Panduan Lengkap Pengelolaan Kebun Dan Pabrik Kelapa Sawit. Cetakan pertama. Penerbit PT. Agro Media Pustaka. Jakarta.

Rachman, Benny, Rusastra, Santana, HP, Salim, Supriyati, 2002. propil Usaha Pertanian Di Indonesia. Bappenas.

Sarwono, 2007. Analisis Jalur Untuk Riset Bisnis Dengan SPSS. Penerbit Andi. Yogyakarta.

Soekartawi, 1990. Teori Ekonomi Produksi. Cetakan pertama. Penerbit CV. Rajawali.
            Jakarta.

Soekartawi, 1993. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian, Teori dan Aplikasi. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Soekartawi, 1996. Pembangunan Pertanian. Cetakan Kedua. Penerbit PT. RajaGrafindo Persada. Jakarta.

Sunarko, 2009. Budidaya Dan Pengelolaan Kebun kelapa Sawit Dengan Sistem kemitraan. Cetakan pertama. Penerbit PT. Agro Media Pustaka. Jakarta.

Suratiyah, Ken, 2008. Ilmu Usaha Tani. Cetakan kedua. Penerbit Penebar Swadaya. Jakarta.

Usman, Husaini, Purnomo, R, Setiady, Akbar, 2006. Pengantar Statistika. Cetakan Pertama. Penerbit PT. Penebar Swadaya.


[1] Dosen Yayasan UMN Al Washliyah Medan

Tidak ada komentar: